|Pakaian Renang dan Pakaian Dalam | Laptop dan Netbook | Jogja Antik | Tebing Siung | Climbing Activity | Panjat Tebing Sleman | Bayi Sehat | Bertaman dan Berkebun|
"jangan ambil sesuatu kecuali foto, jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak, jangan bunuh sesuatu kecuali waktu."
Semarang, CyberNews. Pembagian lapak dugder termasuk tata letak posisi pedagang menjadi otoritas penuh Dinas Pasar Kota. Sementara yang mengurus langsung penempatan di lapangan termasuk pembayaran retribusi sewa lapak dan kebersihan, diserahkan kepada pihak Persatuan Pedagang dan Jasa (PPJ) Kota.
Akan tetapi, Dinas Pasar akan terjun langsung mengawasi pelaksanaan dugderan di lapangan yang berlangsung 1-12 Agustus. Hal ini guna mengetahui, apakah jumlah pedagang sesuai yang mendaftar di saat awal pelaksanaan serta apakah mereka berdagang sesuai pembagian lokasi dari Dinas Pasar. Masalah tersebut nantinya, akan dibahas dalam evaluasi rutin yang rencanya diadakan tanggal 1, 5, 6, dan 10 Agustus antara Dinas Pasar Kota, PPJ Kota, dan seluruh aparat keamanan dugderan.
Menurut Kepala Dinas Pasar Kota Ednawan Haryono melalui Kabid PKL Satrio Imam, jika ada pedagang yang berdagang di lokasi yang tak sesuai dengan tata letak, maka akan ditegur dan diminta untuk pindah ke lokasi sesuai jenis barang dagangannya selagi masih ada tempat kosong. "Kalau sudah tidak ada tempat kosong, terpaksa mereka dipersilakan tidak berdagang di lokasi dugderan. Namun sebelumnya, kami tetap berkomunikasi secara baik sehingga tak sampai terjadi konflik," ujarnya.
Setiap pedagang, boleh menyewa lebih dari satu lapak dengan ukuran standar 2x3 meter. Sementara bagi pedagang yang sudah mulai berdagang sebelum 1 Agustus, akan dikenakan retribusi tambahan dengan hitungan yang sama sesuai jumlah hari tambahan berdagang.
Dikatakan Imam, jika jumlah pungutan kepada pedagang lebih besar dari yang ditetapkan Dinas Pasar, berarti ada premanisme kepada pedagang. "Sebab, kami menjamin tak ada pungutan lain selain sesuai retribusi yang akan masuk seluruhnya ke kas daerah,"
Pedagang Keluhkan Tingginya Sewa Gerai Dugderan
Posted: by Karis As A Trader in Labels: Pedagang Keluhkan Tingginya Sewa Gerai DugderanANTARA - Para pedagang di Pasar Rakyat Dugderan 2010, yang digelar menjelang puasa Ramadhan, mengeluhkan tingginya biaya sewa gerai sebesar Rp300 ribu per hari.
Seorang pedagang, Daniel ketika ditemui di lokasi Dugderan di Kota Semarang, Selasa, mengatakan biaya sewa tersebut belum dapat ditutup dari pemasukan harian, belum termasuk harus menyewa tenda dan membayar listrik.
Ia memasang target pemasukan sebesar Rp6 juta selama berjualan di arena Dugderan tahun ini.
Dugderan merupakan tradisi yang digelar warga Kota Semarang setiap menjelang puasa Ramadhan. Bersamaan perubahan zaman, Dugderan menjadi lahan bisnis bagi pedagang kecil yang ingin meraup rezeki dari hasil berjualan aneka barang, mulai dari kerajinan lokal hingga barang impor.
Pedagang lainnya Yusniarti mengatakan hingga saat ini gerai pakaiannya masih sepi pengunjung sehingga ia merasa berat harus membayar uang sewa Rp300 ribu/hari.
Ia yang rutin mengikuti Dugderan sejak tiga tahun lalu menargetkan pemasukan kotor sebesar Rp2,5 juta per hari.
Cuaca yang tidak menentu, menurut Yusniarti, menjadi kendala utama dalam pelaksanaan pasar rakyat seperti Dugderan. "Pasar menjadi becek dan pengunjung enggan datang ke mari," katanya.
Sebelumnya, kedua pedagang tersebut bergabung menjadi peserta Dugderan ketika dihelat di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) pada 2009 lalu.
"Berdagang di sana (MAJT,red) lebih sepi sehingga kami memilih berdagang di kawasan Pasar Johar," katanya.
Namun, keduanya masih optimistis akan dapat menutup biaya sewa yang besar karena pelaksanaan Dugderan di kawasan Pasar Johar di Jalan Pemuda kemungkinan besar akan menarik lebih banyak orang untuk datang.
Kepala Bidang Pedagang Kaki Lima Dinas Pasar Kota Semarang Satrio Imam belum dapat dihubungi untuk memberikan tanggapan perihal keluhan pedagang di pasar rakyat Dugderan tersebut. ***2***
(U.pso-202/x
Wahana Permainan Kuasai Perayaan Dugderan 2010
Posted: by Karis As A Trader in Labels: Wahana Permainan Kuasai Perayaan Dugderan 2010ANTARA - Wahana permainan Dugderan 2010 di Pasar Johar lebih diminati pengunjung dibandingkan para pedagang yang menjual aneka barang kebutuhan masyarakat.
"Sejak awal dibukanya Dugderan 2010 pada 30 Juli, omzet kami stabil hingga hari ini mencapai Rp3 juta per hari," kata pengelola wahana Kuda Putar, Ahmad Taufik (27) di Semarang, Jumat.
Dia mengatakan, Dugderan tahun ini lebih ramai jika dibandingkan tahun lalu di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).
"Tahun lalu hanya memperoleh omzet satu hingga dua juta dalam sehari," katanya.
Hal senada disampaikan pengelola wahana permainan Bianglala, Radit (35), mengatakan Dugderan tahun ini mendatangkan omzet lebih banyak jika dibandingkan tahun lalu.
Dia mengatakan, dalam sehari memperoleh omzet sebesar Rp2 juta karena pengunjung Dugderan di Pasar Johar lebih ramai.
"Tahun lalu wahana Bianglala ini hanya mendatangkan omzet sebanyak Rp1 juta per hari," katanya.
Begitu juga wahana permainan Balon Terbang terlihat ramai pengunjung yang ingin menaiki wahana tersebut.
Berbeda yang dirasakan para pedagang yang menjual aneka barang kebutuhan masyarakat seperti pedagang pakaian.
Salah satu pedagang pakaian, Daniel (37), mengatakan gerainya sepi dan omzet yang diharapkan jauh dari target.
"Saya menargetkan Dugderan 2010 dapat mendatangkan omzet Rp6 juta, namun agaknya jauh dari target melihat sepinya pembeli hingga hari ini (Jumat)," katanya.
Pedagang pakaian lainnya, Yusniarti (40), mengatakan gerainya masih sepi pembeli dan jauh dari target omzet sebesar Rp2,5 juta per hari.
Dia mengakui untuk memperoleh Rp1 juta per hari saja sangat sulit melihat sepinya pembeli yang datang.
Keadaan senada juga dirasakan pedagang gerabah dan pedagang guci tanah liat yang terlihat menunggu pembeli datang.
The Unofficial Guide Walt Disney World 2010 (Unofficial Guides)
Posted: Thursday, August 5, 2010 by Karis As A Trader in Labels: The Unofficial Guide Walt Disney World 2010 (Unofficial Guides)Product Description
In 2008, combined Walt Disney World Resort© theme park attendance reached over 51 million, with the Magic Kingdom alone drawing over 17 million visitors. (Orlando Convention and Visitor Bureau)
Despite signifcant downturns in the economy, Disney theme parks have maintained attendance rates and made gains in attendance at some parks.
Walt Disney World Resort theme parks are rated best in the world. earning high marks for things outside of the traditional theme park experience. Epcot's International Food & Wine Festival, which takes place for six weeks every fall and showcases food from twenty-five countries, was rated by Forbes Traveler as one of the Best U.S. Food
Nine Lives: In Search of the Sacred in Modern India
Posted: by Karis As A Trader in Labels: Nine Lives: In Search of the Sacred in Modern IndiaProduct Description
From the author of The Last Mughal (“A compulsively readable masterpiece” —The New York Review of Books), an exquisite, mesmerizing book that illuminates the remarkable ways in which traditional forms of religious life in India have been transformed in the vortex of the region’s rapid change—a book that distills the author’s twenty-five years of travel in India, taking us deep into ways of life that we might otherwise never have known exist.
A Buddhist monk takes up arms to resist the Chinese invasion of Tibet—and spends the rest of his life atoning for the violence by hand printing the finest prayer flags in India . . . A Jain nun tests her powers of detachment as she watches her closest friend ritually starve herself to death . . . A woman leaves her middle-class life in Calcutta and finds unexpected fulfillment living as a Tantric in an isolated, skull-filled cremation ground . . . A prison warder from Kerala is worshipped as an incarnate deity for three months of every year . . . An idol carver, the twenty-third in a long line of sculptors, must reconcile himself to his son’s desire to study computer engineering . . . An illiterate goatherd from Rajasthan keeps alive in his memory an ancient four-thousand-stanza sacred epic . . . A temple prostitute, who initially resisted her own initiation into sex work, pushes both her daughters into a trade she nonetheless regards as a sacred calling.
William Dalrymple chronicles these lives with expansive insight and a spellbinding evocation of circumstance. And while the stories reveal the vigorous resilience of individuals in the face of the relentless onslaught of modernity, they reveal as well the continuity of ancient traditions that endure to this day. A dazzling travelogue of both place and spirit
A Walk in the Woods: Rediscovering America on the Appalachian Trail
Posted: by Karis As A Trader in Labels: A Walk in the Woods: Rediscovering America on the Appalachian TrailProduct Description
The Appalachian Trail trail stretches from Georgia to Maine and covers some of the most breathtaking terrain in America–majestic mountains, silent forests, sparking lakes. If you’re going to take a hike, it’s probably the place to go. And Bill Bryson is surely the most entertaing guide you’ll find. He introduces us to the history and ecology of the trail and to some of the other hardy (or just foolhardy) folks he meets along the way–and a couple of bears. Already a classic, A Walk in the Woods will make you long for the great outdoors (or at least a comfortable chair to sit and read in).
Into Thin Air: A Personal Account of the Mt. Everest Disaster
Posted: by Karis As A Trader in Labels: Into Thin Air: A Personal Account of the Mt. Everest DisasterProduct Description
When Jon Krakauer reached the summit of Mt. Everest in the early afternoon of May 10, 1996, he hadn't slept in fifty-seven hours and was reeling from the brain-altering effects of oxygen depletion. As he turned to begin his long, dangerous descent from 29,028 feet, twenty other climbers were still pushing doggedly toward the top. No one had noticed that the sky had begun to fill with clouds. Six hours later and 3,000 feet lower, in 70-knot winds and blinding snow, Krakauer collapsed in his tent, freezing, hallucinating from exhaustion and hypoxia, but safe. The following morning, he learned that six of his fellow climbers hadn't made it back to their camp and were desperately struggling for their lives. When the storm finally passed, five of them would be dead, and the sixth so horribly frostbitten that his right hand would have to be amputated.
Into Thin Air is the definitive account of the deadliest season in the history of Everest by the acclaimed journalist and author of the bestseller Into the Wild. On assignment for Outside Magazine to report on the growing commercialization of the mountain, Krakauer, an accomplished climber, went to the Himalayas as a client of Rob Hall, the most respected high-altitude guide in the world. A rangy, thirty-five-year-old New Zealander, Hall had summited Everest four times between 1990 and 1995 and had led thirty-nine climbers to the top. Ascending the mountain in close proximity to Hall's team was a guided expedition led by Scott Fischer, a forty-year-old American with legendary strength and drive who had climbed the peak without supplemental oxygen in 1994. But neither Hall nor Fischer survived the rogue storm that struck in May 1996.
Krakauer examines what it is about Everest that has compelled so many people -- including himself -- to throw caution to the wind, ignore the concerns of loved ones, and willingly subject themselves to such risk, hardship, and expense. Written with emotional clarity and supported by his unimpeachable reporting, Krakauer's eyewitness account of what happened on the roof of the world is a singular achievement.
hot.detik
"jangan ambil sesuatu kecuali foto, jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak, jangan bunuh sesuatu kecuali waktu."
| Blog: |
| karis semarang |
Topics: |
| adsense, marketing, afiliasi |